Banyuwangi - Hamparan hijau tampak membentang luas mengitari bibir pantai seakan memertegas posisinya sebagai kawasan wisata yang memadukan laut dan hutan mangrove.
Perahu para pencari ikan yang dulu selalu menemani para nelayan, kini berubah menjadi perahu wisata yang siap mengantarkan para wisatawan mengitari hutan mangrove sepanjang 18 kilometer dengan luas wilayah 1.200 hektare dan ketebalan mangrove 350 meter dari bibir pantai.
Begitulah gambaran pesona wisata Mangrove Bedul Segoro Anakan yang berada di Blok Solo, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Wisata Mangrove Bedul Segoro Anakan ini merupakan tempat wisata baru bagi masyarakat Banyuwangi, khususnya yang berada di Banyuwangi Selatan. Ini lantaran wisata itu baru diresmikan awal Januari 2009.
Semula tempat ini hanya menjadi singgahan perahu perahu milik nelayan di desa setempat, usai berlayar mencari ikan.
Kini pantai yang menjadi pintu utama ke Taman Nasional Alas Purwo, baik melalui darat maupun lewat laut itu tiap harinya ramai dengan hiruk pikuk para wisatawan yang ingin menikmati petualang bahari.
Kepala Desa Sumberasri, Suyatno menceritakan ide pengembangan awal Blok Bedul sebagai wahana Wisata Alam Laut dan Hutan muncul pada awal tahun 2003.
Dinamai Bedul karena di pantai itu banyak dijumpai Ikan Bedul yang merupakan salah satu Ikan Gabus yang memiliki sirip di punggungnya.
Seiring berjalannya waktu pada tahun 2007 Desa Sumberasri, Purwoharjo ditetapkan menjadi desa model konservasi.
Pada tahun yang sama juga ditandatangani perjanjian kesepahaman mengenai kerja sama antara Balai Taman Nasional Alas Purwo dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Sumberasri, dalam pengembangan wisata alam laut dan hutan mangrove terbatas blok Bedul.
Sementara untuk menyiapkan SDM pihak desa cukup melibatkan warga dan nelayan sekitar dengan didampingi ahli dari JICA (Japan International Cooporation Agency) dan BHPM (Balai Pengelolaan Hutan Mangrove) wilayah I yang ada di Bali, yang membantu pelatihan berupa pengetahuan flora dan fauna mangrove.
Bagi wisatawan yang berkunjung, pihak desa telah menyiapkan sejumlah paket wisata berkeliling hutan mangrove dengan menggunakan kapal.
Untuk mengelilingi hutan mangrove pengunjung cukup membayar sewa perahu dengan tarif antara Rp75 ribu hingga Rp250 ribu untuk 10 hingga 15 orang.
Pengunjung ditawarkan dengan berbagai paket wisata, di antaranya rekreasi ke Hutan Marengan, keliling hutan mangrove sampai ke penangkaran penyu di Ngagelan, melihat burung migran yang berasal dari Australia, dan pendidikan lingkungan hidup.
Suyatno berharap, setelah perahu wisata yang ditawarkan bagi para pengunjung, ke depan pengembangan wisata Mangrove Bedul ini akan dijadikan tempat warung terapung (wapung) seperti di Kalimantan yang ditempatkan di sepanjang pantai.
"Dengan begitu, selain menikmati hutan mangrove wisatawan juga bisa dimanjakan dengan berbagai macam kuliner," paparnya.
Diakui oleh Suyatno, prospek pengelolaan wisata Mangrove Bedul ini sangat menjanjikan, apalagi untuk kesejahteraan masyarakat di desanya.
Hal itu yang menjadikan warganya menolak apabila pengelolaan wisata mangrove itu melibatkan investor, meski diakui oleh Suyatno ada sejumlah investor yang siap mengelola wisata Mangrove Bedul.
Warga di desa setempat pun mulai banyak mengerti akan pentingnya mangrove selain penting bagi kelangsungan ekosistem lingkungan pantai, juga bisa menjadi tempat wisata yang mendatangkan rupiah.
Minim Transportasi
Sayangnya, moda transportasi untuk menuju ke kawasan wisata ini masih sulit karena tidak ada sama sekali, baik bus maupun angkutan kota hingga angkutan desa sekalipun melintas di kawasan tersebut.
Petunjuk arah ke tempat wisatapun belum ada, sehingga wajar bila masih banyak wisatawan luar kota, bahkan warga "Bumi Blambangan" sendiri yang masih bingung untuk menuju tempat wisata tersebut.
Untuk menuju ke wisata Mangrove Bedul, disarankan menggunakan kendaraan pribadi dengan jarak tempuh perjalanan dari kota Banyuwangi sekitar dua jam.
Rutenya sendiri dari Kota Banyuwangi bisa memilih jalur selatan ke arah Kecamatan Rogojampi berlanjut Srono, melewati Kecamatan Muncar, Pasar Sumberayu, Kecamatan Tegaldlimo, Desa Jatirejo, Desa Curahjati dan baru akan sampai di Pasar Sumberasri.
Kemudian dari Pasar Sumberasri ke arah selatan mengikuti jalan yang sudah di aspal berjarak 8 Km melewati areal persawahan dan hutan jati.
Pengunjung baru bisa mengetahui telah memasuki tempat wisata setelah terlihat spanduk bertuliskan wisata Mangrove Bedul.
Begitulah gambaran pesona wisata Mangrove Bedul Segoro Anakan yang berada di Blok Solo, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Wisata Mangrove Bedul Segoro Anakan ini merupakan tempat wisata baru bagi masyarakat Banyuwangi, khususnya yang berada di Banyuwangi Selatan. Ini lantaran wisata itu baru diresmikan awal Januari 2009.
Semula tempat ini hanya menjadi singgahan perahu perahu milik nelayan di desa setempat, usai berlayar mencari ikan.
Kini pantai yang menjadi pintu utama ke Taman Nasional Alas Purwo, baik melalui darat maupun lewat laut itu tiap harinya ramai dengan hiruk pikuk para wisatawan yang ingin menikmati petualang bahari.
Kepala Desa Sumberasri, Suyatno menceritakan ide pengembangan awal Blok Bedul sebagai wahana Wisata Alam Laut dan Hutan muncul pada awal tahun 2003.
Dinamai Bedul karena di pantai itu banyak dijumpai Ikan Bedul yang merupakan salah satu Ikan Gabus yang memiliki sirip di punggungnya.
Seiring berjalannya waktu pada tahun 2007 Desa Sumberasri, Purwoharjo ditetapkan menjadi desa model konservasi.
Pada tahun yang sama juga ditandatangani perjanjian kesepahaman mengenai kerja sama antara Balai Taman Nasional Alas Purwo dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Sumberasri, dalam pengembangan wisata alam laut dan hutan mangrove terbatas blok Bedul.
Sementara untuk menyiapkan SDM pihak desa cukup melibatkan warga dan nelayan sekitar dengan didampingi ahli dari JICA (Japan International Cooporation Agency) dan BHPM (Balai Pengelolaan Hutan Mangrove) wilayah I yang ada di Bali, yang membantu pelatihan berupa pengetahuan flora dan fauna mangrove.
Bagi wisatawan yang berkunjung, pihak desa telah menyiapkan sejumlah paket wisata berkeliling hutan mangrove dengan menggunakan kapal.
Untuk mengelilingi hutan mangrove pengunjung cukup membayar sewa perahu dengan tarif antara Rp75 ribu hingga Rp250 ribu untuk 10 hingga 15 orang.
Pengunjung ditawarkan dengan berbagai paket wisata, di antaranya rekreasi ke Hutan Marengan, keliling hutan mangrove sampai ke penangkaran penyu di Ngagelan, melihat burung migran yang berasal dari Australia, dan pendidikan lingkungan hidup.
Suyatno berharap, setelah perahu wisata yang ditawarkan bagi para pengunjung, ke depan pengembangan wisata Mangrove Bedul ini akan dijadikan tempat warung terapung (wapung) seperti di Kalimantan yang ditempatkan di sepanjang pantai.
"Dengan begitu, selain menikmati hutan mangrove wisatawan juga bisa dimanjakan dengan berbagai macam kuliner," paparnya.
Diakui oleh Suyatno, prospek pengelolaan wisata Mangrove Bedul ini sangat menjanjikan, apalagi untuk kesejahteraan masyarakat di desanya.
Hal itu yang menjadikan warganya menolak apabila pengelolaan wisata mangrove itu melibatkan investor, meski diakui oleh Suyatno ada sejumlah investor yang siap mengelola wisata Mangrove Bedul.
Warga di desa setempat pun mulai banyak mengerti akan pentingnya mangrove selain penting bagi kelangsungan ekosistem lingkungan pantai, juga bisa menjadi tempat wisata yang mendatangkan rupiah.
Minim Transportasi

Sayangnya, moda transportasi untuk menuju ke kawasan wisata ini masih sulit karena tidak ada sama sekali, baik bus maupun angkutan kota hingga angkutan desa sekalipun melintas di kawasan tersebut.
Petunjuk arah ke tempat wisatapun belum ada, sehingga wajar bila masih banyak wisatawan luar kota, bahkan warga "Bumi Blambangan" sendiri yang masih bingung untuk menuju tempat wisata tersebut.
Untuk menuju ke wisata Mangrove Bedul, disarankan menggunakan kendaraan pribadi dengan jarak tempuh perjalanan dari kota Banyuwangi sekitar dua jam.
Rutenya sendiri dari Kota Banyuwangi bisa memilih jalur selatan ke arah Kecamatan Rogojampi berlanjut Srono, melewati Kecamatan Muncar, Pasar Sumberayu, Kecamatan Tegaldlimo, Desa Jatirejo, Desa Curahjati dan baru akan sampai di Pasar Sumberasri.
Kemudian dari Pasar Sumberasri ke arah selatan mengikuti jalan yang sudah di aspal berjarak 8 Km melewati areal persawahan dan hutan jati.
Pengunjung baru bisa mengetahui telah memasuki tempat wisata setelah terlihat spanduk bertuliskan wisata Mangrove Bedul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar