Minggu, 20 Februari 2011

Saatnya Revolusi Sepak Bola Nasional

Saatnya Revolusi Sepak Bola Nasional
Walikota Malang Peni Suparto

Seluruh warga Kota Malang, Jawa Timur (Jatim) pasti mengenal sosok Wali Kota Malang yang menjabat dua periode tersebut. Peni menjadi sosok pecetus revolusi sepak bola nasional. Sebab pemikiran dan keberaniannya dalam memajukan sepak bola nasional tidak diragukan lagi.

Munculnya pemikiran revolusi itu berangkat dari keprihatinan terhadap persepakbolaan nasional yang selama 10 tahun terpuruk. Ditambah lagi pemegang kebijakan sepak bola nasional di PSSI sudah tidak layak lagi untuk menjadi panutan.

Peni lantas menjadi orang pertama yang berani mendobrak kebuntuan selama ini ketika masyarakat telah kecewa dengan PSSI.

Namanya semakin populer seiring dengan keputusannya yang radikal yakni berani mengambil risiko apa pun dengan memutuskan Persema Malang--klub berjuluk Laskar Ken Arok--untuk keluar dari Liga Super Indonesia (LSI), liga paling bergengsi di Indonesia, dengan memilih Liga Primer Indonesia (LPI).

Keputusan itu menggemparkan persepakbolaan nasional yang euforia pascapiala AFF 2010. Sebab keberanian melawan PSSI tersebut diawali klub dari Kota Malang atau satu kota bersama Arema Indonesia.

Bagi Peni, Indonesia butuh revolusi sepak bola nasional. Diperlukan hal itu karena prestasi yang kian terpuruk, namun pengurus PSSI berusaha mempertahankan dominasi di organisasi itu.

Sehingga yang terjadi selama ini adalah di organisasi PSSI belum terbangun budaya malu kendati pengurusnya gagal dalam memajukan sepak bola nasional. Hal itu jelas menambah kecemasan masyarakat.

Ia kemudian mendorong gagasan perlu adanya revolusi. Untuk mewujudkan hal itu, lanjut dia, diperlukan tiga syarat yaitu situasi dan kondisi sekarang dinilai sudah memungkinkan dilakukan sebuah revolusi.

"Sekarang situasinya sudah tepat karena persepakbolaan nasional terpuruk," katanya. Bahkan "Untuk mewujudkan prestasi di tingkat ASEAN saja selama 10 tahun terakhir selalu gagal," tegas Peni Suparto kepada mediaindonesia.com, Minggu (20/2).

Untuk itu pengelola persepakbolaan nasional yang duduk di kepengurusan PSSI sekarang harus sadar dan malu."Situasinya sudah memungkinkan dilakukan revolusi," tegasnya.

Kedua, revolusi harus didukung oleh masyarakat. Sebab untuk membangun sepak bola nasional agar maju dan bisa berprestasi di tingkat Asia dan dunia butuh dukungan penuh dari masyarakat, termasuk para pecinta bola.

Terlebih lagi pemikiran revolusi tersebut didukung oleh pengurus persepakbolaan nasional.

"Kalau masyarakat tidak mendukung dan mereka 'melempem', bagaimana bisa memajukan sepak bola nasional?," katanya.

Ketiga, revolusi harus ada yang memimpin. Sekarang, tegasnya, sangat dibutuhkan pemimpin yang berani, inovatif dan kreatif dalam memajukan sepak bola nasional. Terpenting lagi dibutuhkan yang berani mengakui

kelemahan dan kegagalan. Desakan masyarakat yang menilai pengurus PSSI gagal dalam memajukan persepakbolaan nasional harus ditanggapi secara positif dengan mundur dari organisasi itu.

Namun yang terjadi sekarang adalah pengurus PSSI terus bertahan dan tidak ingin mundur dari jabatannya. Mereka belum memiliki budaya malu. "Orang bertahan di dalam ketidakmampuan. Padahal sudah gagal memajukan sepak bola nasional," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar