Kamis, 24 Maret 2011

PSSI Ladang Keruk Uang?


Nurdin Halid (kanan) dan Nugraha Besoes.
Tujuan didirikannya PSSI oleh Ir Soeratin Sosrosoegondo, rupanya sudah tak sejalan lagi dengan pemikiran para pengurusnya saat ini. Penilaian itu diutarakan oleh Koordinator Asosiasi Suporter Indonesia (ASI), Partoba Pangaribuan.

"Sepakbola kini dipolitisasi oleh Nurdin Halid dan kroninya. Itulah yang membuat kisruh berkepanjangan di tubuh PSSI saat ini," kata Parto, sapaan akrabnya, Kamis (24/3).

Bahkan kata Parto pula, banyak pengurus kini yang menjadikan PSSI sebagai tempat mencari uang. "Buktinya, pertanggungjawaban anggaran, baik APBN hingga APBD oleh pengurus daerah, tidak jelas. Karena sudah dipolitisasi, tentu saja nilainya jadi lebih tinggi," paparnya.

Karena itu, menjelang HUT PSSI ke-81, 19 April 2011 mendatang, menurut Parto, para pengurus PSSI akan coba diingatkan kembali soal untuk apa organisasi sepakbola ini didirikan. "Kami akan melaksanakan sejumlah kegiatan, seperti bersih-bersih makam Soeratin di Bandung. Lihat saja, makam pendiri saja selama ini dicuekin PSSI," katanya.

Menurut Parto pula, selama ini PSSI tak pernah memperhatikan makam Soeratin yang tak terurus, yang bahkan sudah sering dijadikan tempat jemuran oleh warga sekitar makam. "Hari itu (momen HUT) akan kami jadikan momentum kebangkitan sepakbola Indonesia," tandasnya.

Dijelaskannya, PSSI didirikan oleh Soeratin pada tahun 1930 di Solo, dengan nama Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia. Istilah "sepakraga" kemudian diganti dengan "sepakbola" dalam Kongres PSSI di Solo pada 1950. PSSI sendiri telah melakukan kompetisi secara rutin sejak 1931.

Didirikannya PSSI, menurut Parto pula, merupakan bagian dari perjuangan, karena memang ditentang oleh Pemerintah Hindia Belanda yang menjajah Indonesia saat itu. Nyawa ikut menjadi jaminan para pendirinya, yang ingin agar persepakbolaan Indonesia berbicara di tingkat dunia. Sayangnya, bukan prestasi yang saat ini dikenal dunia, tapi malah kisruh internal di PSSI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar